Jurnal gaji karyawan merupakan bagian penting dalam proses akuntansi perusahaan karena digunakan untuk mencatat seluruh transaksi penggajian secara sistematis. Kesalahan dalam membuat jurnal gaji dapat memengaruhi laporan keuangan, perhitungan pajak, hingga proses audit.
Oleh karena itu, pemilik bisnis maupun tim keuangan perlu memahami cara menyusun jurnal gaji yang benar agar proses payroll berjalan lebih akurat dan terdokumentasi dengan baik. Mari simak cara selengkapnya di bawah ini!
Kapan Jurnal Gaji Karyawan Dibuat?
Jurnal gaji umumnya dibuat setiap kali perusahaan memproses payroll. Waktu pencatatannya dapat berbeda sesuai kebijakan perusahaan, misalnya:
1. Saat Gaji Menjadi Beban Perusahaan
Pencatatan dilakukan ketika perusahaan mengakui beban gaji pada akhir periode. Artinya, meskipun gaji belum dibayarkan, perusahaan sudah mencatatnya sebagai kewajiban karena karyawan telah bekerja dalam periode tersebut.
Hal ini penting untuk memastikan laporan keuangan mencerminkan kondisi yang sebenarnya (accrual basis), sehingga beban perusahaan tidak hanya diakui saat kas keluar, tetapi saat kewajiban itu muncul.
2. Saat Pembayaran Gaji Dilakukan
Jurnal dibuat ketika perusahaan membayarkan gaji kepada karyawan melalui transfer maupun metode pembayaran lainnya.
Pada tahap ini, perusahaan mencatat pengurangan kas atau bank karena dana sudah benar-benar keluar.
Pencatatan ini juga berfungsi untuk menutup utang gaji yang sebelumnya sudah diakui pada jurnal beban gaji, sehingga saldo kewajiban menjadi nol setelah pembayaran dilakukan.
3. Saat Menyetorkan Pajak dan Iuran BPJS
Perusahaan juga perlu mencatat pelunasan kewajiban PPh 21 serta iuran BPJS yang telah dipotong dari penghasilan karyawan.
Pencatatan ini penting karena meskipun dana tersebut berasal dari potongan gaji karyawan, perusahaan bertindak sebagai pihak yang menyetorkan ke negara atau lembaga terkait.
Baca Juga: Cara Menghitung Gaji Karyawan, Ini Rumus & Contohnya!
Komponen yang Dicatat dalam Jurnal Gaji Karyawan
Sebelum membuat jurnal, perusahaan perlu mengetahui seluruh komponen yang memengaruhi proses penggajian. Berikut ini komponennya:
1. Gaji Pokok
Merupakan komponen utama yang menjadi dasar perhitungan penghasilan karyawan. Gaji pokok biasanya ditentukan berdasarkan jabatan, pengalaman, dan kesepakatan kerja.
Komponen ini bersifat tetap setiap periode kecuali ada perubahan kontrak atau kebijakan perusahaan.
2. Tunjangan
Meliputi tunjangan tetap maupun tidak tetap sesuai kebijakan perusahaan. Tunjangan bisa berupa tunjangan makan, transportasi, jabatan, atau tunjangan keluarga.
Komponen ini diberikan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan dan dapat berbeda antar posisi atau level jabatan.
3. Lembur dan Insentif
Tambahan penghasilan yang diberikan berdasarkan jam kerja tambahan atau pencapaian tertentu. Lembur biasanya dihitung berdasarkan jam kerja di luar jam normal, sedangkan insentif diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kinerja atau target yang tercapai.
4. Potongan BPJS
Iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang menjadi kewajiban karyawan. Potongan ini dihitung berdasarkan persentase tertentu dari gaji dan wajib disetorkan oleh perusahaan setiap bulan sesuai regulasi pemerintah.
5. Potongan PPh 21
Pajak penghasilan yang dipotong perusahaan sesuai ketentuan perpajakan. Besarnya potongan ini tergantung pada penghasilan kena pajak karyawan dan status PTKP masing-masing individu, sehingga setiap karyawan bisa memiliki nilai potongan yang berbeda.
6. Potongan Lainnya
Misalnya koperasi, pinjaman karyawan, atau potongan lain sesuai kebijakan perusahaan. Potongan ini biasanya bersifat internal dan disepakati antara perusahaan dan karyawan, seperti cicilan pinjaman atau iuran organisasi tertentu.
Baca Juga: Pentingnya Software Payroll dengan Update Regulasi Otomatis bagi Efisiensi HR
Bagaimana Cara Membuat Jurnal Gaji Karyawan?
Agar pencatatan lebih akurat, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Hitung Total Gaji Bruto
Jumlahkan seluruh komponen penghasilan yang diterima karyawan sebelum potongan. Proses ini mencakup gaji pokok, tunjangan, lembur, dan insentif. Hasil perhitungan ini menjadi dasar utama sebelum dilakukan pengurangan apa pun.
2. Hitung Seluruh Potongan
Hitung PPh 21, BPJS, dan potongan lainnya sesuai ketentuan. Pada tahap ini, perusahaan harus memastikan semua potongan sudah sesuai regulasi dan data karyawan terbaru agar tidak terjadi kesalahan dalam perhitungan gaji bersih.
3. Tentukan Nilai Gaji Bersih
Kurangkan total gaji bruto dengan seluruh potongan untuk memperoleh gaji bersih. Nilai ini adalah jumlah yang benar-benar diterima oleh karyawan dan akan ditransfer ke rekening masing-masing.
4. Buat Jurnal Pengakuan Beban Gaji
Contoh:
Debit
- Beban Gaji
Kredit
- Utang Gaji
- Utang PPh 21
- Utang BPJS
Jurnal ini dibuat untuk mencatat bahwa perusahaan telah memiliki kewajiban membayar gaji kepada karyawan beserta kewajiban pajak dan BPJS yang harus disetorkan.
5. Buat Jurnal Pembayaran Gaji
Debit
- Utang Gaji
Kredit
- Kas/Bank
Jurnal ini mencatat proses pembayaran aktual kepada karyawan, sekaligus menghapus kewajiban utang gaji yang sebelumnya sudah dicatat pada jurnal pengakuan beban.
Baca Juga: Rumus Menghitung Potongan BPJS Ketenagakerjaan 2026
Contoh Jurnal Gaji Karyawan
Misalnya PT Maju Bersama memiliki data payroll sebagai berikut:
- Gaji pokok: Rp25.000.000
- Tunjangan: Rp3.000.000
- Lembur: Rp2.000.000
- Potongan BPJS: Rp700.000
- Potongan PPh 21: Rp800.000
Jurnal Pengakuan Beban Gaji
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
| 5 Agustus 2026 | Beban Gaji | Rp30.000.000 | – |
| Utang BPJS | – | Rp700.000 | |
| Utang PPh 21 | – | Rp800.000 | |
| Utang Gaji | – | Rp28.500.000 |
Jurnal Pembayaran Gaji
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
| 5 Agustus 2026 | Utang Gaji | Rp28.500.000 | – |
| Kas/Bank | – | Rp28.500.000 |
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Pencatatan Jurnal Gaji
Beberapa kesalahan yang masih sering ditemukan antara lain:
1. Salah Menghitung Potongan Pajak
Kesalahan dalam menghitung potongan PPh 21 sering terjadi karena perubahan regulasi pajak atau ketidaktepatan dalam menentukan penghasilan kena pajak.
Jika perhitungan tidak sesuai, perusahaan bisa mengalami selisih pembayaran pajak yang berisiko menimbulkan denda atau koreksi saat audit.
2. Tidak Memperbarui Tarif BPJS
Tarif BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan dapat berubah sesuai kebijakan pemerintah.
Jika perusahaan tidak memperbarui data tarif secara berkala, maka potongan yang dihitung bisa tidak sesuai ketentuan dan menyebabkan kekurangan atau kelebihan pembayaran iuran.
3. Keliru Mengelompokkan Tunjangan
Tunjangan yang seharusnya masuk kategori penghasilan tetap atau tidak tetap sering kali salah dicatat. Kesalahan pengelompokan ini dapat memengaruhi perhitungan pajak, BPJS, serta total beban gaji yang dicatat dalam jurnal.
4. Terjadi Duplikasi Pencatatan
Duplikasi pencatatan biasanya terjadi ketika proses payroll dilakukan secara manual atau tidak terintegrasi. Akibatnya, satu transaksi gaji bisa tercatat lebih dari satu kali sehingga membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat.
Baca Juga: Perbandingan Payroll Manual vs HRIS: Mana yang Lebih Tepat untuk Perusahaan Anda?
5. Mengandalkan Perhitungan Manual
Perhitungan gaji secara manual sangat rentan terhadap human error, terutama jika jumlah karyawan banyak dan komponen gaji kompleks. Selain memakan waktu, metode ini juga meningkatkan risiko kesalahan dalam jurnal gaji karyawan.
Optimalkan Proses Payroll dan Pencatatan Gaji Karyawan dengan Gaji.id
Membuat jurnal gaji secara manual membutuhkan ketelitian yang tinggi, terutama ketika perusahaan memiliki banyak karyawan dan berbagai komponen payroll yang harus dihitung.
Penggunaan sistem yang terintegrasi dapat membantu mengurangi risiko kesalahan sekaligus mempercepat proses penggajian.
Melalui aplikasi penggajian karyawan dari Gaji.id, perusahaan dapat mengelola payroll secara lebih efisien dengan berbagai fitur yang mendukung proses penggajian, seperti:
- Komponen gaji yang fleksibel sesuai kebijakan perusahaan
- Perhitungan BPJS dan PPh 21 yang akurat dan sesuai regulasi terbaru
- Mendukung pembayaran gaji mingguan maupun bulanan
- Formula payroll yang dapat disesuaikan dengan struktur kompensasi perusahaan
- Slip gaji dan bukti potong digital yang dapat diakses karyawan secara mandiri
Gaji.id membantu memastikan seluruh proses payroll berjalan lebih rapi, cepat, dan minim kesalahan.
Hubungi tim Gaji.id dan jadwalkan demo untuk melihat langsung bagaimana sistem ini dapat membantu perusahaan Anda!



