Mengenal Career Catfishing: Tren Gen Z Menghilang di Hari Pertama Kerja

Pernahkan Anda mendengar tentang career catfishing? Ini adalah tren yang tengah marak terjadi di kalangan Gen Z. Gen Z memang selalu datang dengan kejutan-kejutan baru yang cenderung menciptakan tren di dunia kerja modern saat ini. Career catfishing sendiri adalah salah satu gebrakan anyar Gen Z, sebagai respon mereka terhadap dinamika dunia kerja masa kini. Istilah ini merujuk pada tindakan menerima tawaran pekerjaan, tetapi tidak muncul pada hari pertama kerja tanpa memberi kabar sama sekali. Fenomena tersebut semakin sering terjadi di kalangan Gen Z dan memunculkan pertanyaan besar: mengapa hal semacam ini bisa menjadi tren? Mari telusuri artikel ini untuk kupasan lengkapnya. 

Apa Itu Career Catfishing?

Career catfishing sejatinya adalah bentuk “ghosting” dalam dunia kerja. Dalam konteks karier, seorang kandidat tiba-tiba menghilang setelah menerima tawaran kerja resmi. Tidak ada email, telepon, atau kabar apa pun dari kandidat, sehingga perusahaan perekrut hanya bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi.

Lalu mengapa Gen Z sering melakukan catfishing? Ada sejumlah alasan yang mendasari tindakan mereka, antara lain:

  1. Tekanan dari Proses Rekrutmen yang Rumit

Proses rekrutmen sering kali panjang, penuh wawancara berulang, dan minim kepastian. Bagi kandidat muda, ini bisa terasa melelahkan sekaligus membuat mereka merasa tidak dihargai.

  1. Kebingungan dalam Menentukan Karier

Banyak Gen Z masih mencari jati diri profesional. Ketika tawaran yang mereka terima ternyata tidak sesuai harapan, jalan pintas yang diambil adalah menghilang begitu saja.

  1. Budaya Cepat Beralih

Gen Z tumbuh dalam budaya digital yang serba cepat. Mereka terbiasa beralih dari satu platform ke platform lain. Pola ini tanpa sadar terbawa ke dunia kerja, termasuk dalam keputusan karier mereka.

  1. Validasi dari Pasar Kerja

Survei menunjukkan hanya 12 persen eksekutif tingkat menengah yang menilai kandidat entry-level benar-benar siap kerja. Kondisi ini membuat sebagian Gen Z ragu pada kesiapan mereka sendiri, sehingga lebih mudah mundur di saat-saat terakhir.

Meski lebih identik dengan Gen Z, catfishing bukan fenomena eksklusif. Survei dari CVGenius yang dikutip The New York Post mencatat persentase generasi yang pernah melakukan catfishing, yakni:

  • 34 persen Gen Z
  • 24 persen Milenial
  • 11 persen Gen X
  • 7 persen Baby Boomer

Artinya, fenomena ini adalah gejala lintas generasi, meski paling tinggi terjadi di kalangan Gen Z saat ini.

Dampak Career Catfishing

Bagi perusahaan, kehilangan kandidat di hari pertama kerja menimbulkan kerugian besar, karena waktu, biaya, dan sumber daya terbuang. Tim rekrutmen harus mengulang proses dari awal, sementara posisi yang kosong tetap belum terisi.

Bagi pelaku, catfishing membawa konsekuensi jangka panjang. Reputasi profesional bisa rusak, terutama jika hal ini diketahui oleh jaringan rekrutmen atau perusahaan lain. Selain itu, rasa bersalah dan tekanan psikologis karena menghindar tanpa komunikasi bisa muncul di kemudian hari.

Bagaimana Mengatasi Career Catfishing?

Fenomena ini bukan semata-mata masalah etika individu, melainkan gejala adanya ketidaksesuaian dalam sistem rekrutmen. Karena itu, solusinya harus bersifat kolaboratif antar berbagai pihak yang terlibat, terutama perusahaan dan calon karyawan itu sendiri. 

Perusahaan misalnya, perlu memperbaiki proses rekrutmen dengan komunikasi yang lebih cepat, transparan, dan menghargai kandidat. Proses rekrutmen yang nyaman, praktis, dan tidak berbelit-belit juga akan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi calon karyawan. 

Dari sisi kandidat, alih-alih menghilang, penting untuk menyampaikan alasan secara jujur ketika memutuskan mundur. Komunikasi sederhana dapat menjaga reputasi profesional untuk jangka panjang.

Selain itu, untuk menghindari catfishing oleh karyawan baru, perusahaan perlu memiliki daya tarik profesional yang baik. Sejak awal proses rekrutmen, pastikan agar calon karyawan memperoleh pengalaman yang nyaman sehingga tidak menghilang saat hari pertama bekerja. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan teknologi modern seperti aplikasi HRIS Gaji.id. Dengan fitur rekrutmen dari Gaji.id, seluruh proses administrasi rekrutmen menjadi jauh lebih mudah dan cepat. Ingin tahu lebih lanjut tentang aplikasi Gaji.id? Hubungi kami atau jadwalkan demo untuk informasi selengkapnya. 

Share this Article:

Scroll to Top