Sistem kerja shifting menjadi metode yang banyak diterapkan oleh perusahaan yang beroperasi di luar jam kerja normal atau membutuhkan layanan secara berkelanjutan. Namun, penerapan sistem kerja shifting juga memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak menimbulkan kelelahan, penurunan produktivitas, maupun masalah kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan.
Bagi HR, menyusun jadwal shift yang adil, memantau kehadiran, hingga menghitung lembur sering kali menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, cari tahu solusi yang efektif di bawah ini.
Perusahaan Apa Saja yang Menggunakan Sistem Kerja Shifting?
Tidak semua perusahaan menerapkan sistem kerja shifting. Umumnya, sistem ini digunakan oleh perusahaan yang harus tetap beroperasi selama 24 jam atau memiliki jam layanan yang lebih panjang dibanding jam kerja reguler.
Berikut beberapa industri yang paling sering menggunakan sistem kerja shifting:
1. Manufaktur dan Pabrik
Perusahaan manufaktur menggunakan sistem shift agar proses produksi dapat berjalan tanpa henti. Dengan demikian, kapasitas produksi dapat meningkat dan penggunaan mesin menjadi lebih optimal.
2. Rumah Sakit dan Layanan Kesehatan
Rumah sakit, klinik, laboratorium, hingga layanan ambulans membutuhkan tenaga medis yang selalu tersedia. Oleh karena itu, dokter, perawat, maupun tenaga pendukung bekerja berdasarkan jadwal shift.
3. Retail dan Supermarket
Banyak supermarket, minimarket, maupun pusat perbelanjaan memiliki jam operasional yang panjang sehingga membutuhkan pembagian jam kerja agar pelayanan kepada pelanggan tetap optimal.
Baca Juga: Cara Mengatur Strategi Transisi dari Outsourcing ke In-House Hiring yang Efektif
4. Hotel, Restoran, dan Industri F&B
Industri perhotelan dan restoran melayani pelanggan sejak pagi hingga malam, bahkan selama 24 jam. Sistem kerja shifting membantu memastikan setiap operasional tetap berjalan sesuai standar layanan.
5. Logistik dan Transportasi
Perusahaan logistik, pergudangan, pelabuhan, hingga transportasi umum membutuhkan sistem shift untuk mendukung distribusi barang maupun layanan transportasi yang beroperasi sepanjang hari.
6. Security dan Perusahaan Outsourcing
Petugas keamanan, cleaning service, maupun tenaga outsourcing lainnya sering bekerja berdasarkan sistem shift agar keamanan dan pelayanan tetap terjaga setiap waktu.
Aturan Sistem Kerja Shifting Menurut Undang-Undang
Penerapan sistem kerja shifting harus tetap mengikuti ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. Perusahaan tidak dapat menyusun jadwal kerja secara sembarangan karena terdapat batasan mengenai jam kerja, waktu istirahat, hingga lembur yang harus dipenuhi.
Secara umum, ketentuan tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang beserta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 mengenai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja, Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja.
Beberapa ketentuan penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Jam kerja maksimal 7 jam per hari dan 40 jam per minggu untuk sistem 6 hari kerja.
- Jam kerja maksimal 8 jam per hari dan 40 jam per minggu untuk sistem 5 hari kerja.
- Pekerjaan yang melebihi ketentuan tersebut termasuk lembur dan harus memenuhi aturan mengenai persetujuan pekerja serta pemberian upah lembur.
- Karyawan berhak memperoleh waktu istirahat selama jam kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
- Setiap pekerja berhak memperoleh hari istirahat mingguan sesuai sistem kerja yang diterapkan perusahaan.
- Untuk pekerja perempuan yang bekerja pada malam hari, perusahaan wajib memenuhi ketentuan perlindungan sesuai peraturan perundang-undangan, termasuk aspek keselamatan dan keamanan apabila dipersyaratkan.
- Beberapa sektor usaha yang memberikan pelayanan secara terus-menerus, seperti rumah sakit, transportasi, penyedia energi, telekomunikasi, keamanan, hingga industri tertentu, diperbolehkan menerapkan sistem kerja bergilir agar operasional tetap berjalan.
Baca Juga: Standar Toleransi Keterlambatan yang Wajar di Dunia Kerja: Berapa Menit Masih Wajar?
Jenis-Jenis Sistem Kerja Shifting
Sebelum menyusun jadwal kerja, HR perlu memahami berbagai jenis sistem shift yang umum digunakan perusahaan.
Setiap pola memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional.
Beberapa jenis sistem kerja shifting meliputi:
- Fixed Shift (Shift Tetap), yaitu karyawan bekerja pada jam yang sama setiap hari.
- Rotating Shift (Shift Bergilir), yaitu jadwal kerja berpindah secara berkala antara shift pagi, siang, dan malam.
- Shift Pagi, Siang, dan Malam, pola yang paling umum digunakan pada operasional 24 jam.
- Long Shift (12 Jam), biasanya diterapkan dengan jumlah hari kerja yang lebih sedikit.
- Flexible Shift, yaitu perusahaan memberikan fleksibilitas waktu masuk kerja sesuai kebutuhan operasional.
- Split Shift, yaitu jam kerja dibagi menjadi dua periode dalam satu hari dengan jeda waktu tertentu.
Contoh Jadwal Sistem Kerja Shifting
Berikut contoh pola jadwal kerja shift yang umum diterapkan perusahaan:
| Pola Shift | Jam Kerja | Keterangan |
| 3 Shift | 07.00–15.00, 15.00–23.00, 23.00–07.00 | Cocok untuk operasional 24 jam |
| 2 Shift | 07.00–19.00, 19.00–07.00 | Umumnya diterapkan pada industri tertentu dengan sistem 12 jam |
| Rotasi Mingguan | Berganti setiap minggu | Memberikan pemerataan jadwal kerja |
| 4 Grup 3 Shift | Empat kelompok bergantian | Mengurangi kelelahan akibat kerja malam |
| Pola 5-2 | Lima hari kerja, dua hari libur | Banyak digunakan pada perusahaan manufaktur |
Keuntungan Menerapkan Sistem Kerja Shifting
Jika dikelola dengan baik, sistem kerja shifting mampu memberikan berbagai manfaat bagi perusahaan maupun karyawan.
1. Menjaga Operasional Tetap Berjalan
Perusahaan dapat memberikan layanan maupun menjalankan proses produksi tanpa henti sehingga kebutuhan pelanggan tetap terpenuhi.
Hal ini sangat penting terutama bagi industri yang beroperasi 24 jam seperti manufaktur, rumah sakit, atau layanan pelanggan.
2. Meningkatkan Produktivitas
Pembagian jam kerja memungkinkan beban pekerjaan tersebar lebih merata sehingga produktivitas operasional dapat dipertahankan.
Karyawan tidak bekerja dalam kondisi terlalu lelah karena jam kerja sudah diatur secara bergantian.
Hal ini membantu menjaga fokus dan kualitas hasil kerja di setiap shift. Dengan ritme kerja yang lebih seimbang, target perusahaan juga lebih mudah dicapai.
3. Mengoptimalkan Pemanfaatan Fasilitas
Mesin produksi, peralatan kerja, maupun fasilitas perusahaan dapat dimanfaatkan lebih maksimal tanpa banyak waktu menganggur.
Sistem shift memastikan aset perusahaan terus digunakan sepanjang hari sesuai kebutuhan operasional.
Hal ini membantu meningkatkan efisiensi investasi perusahaan terhadap fasilitas yang dimiliki.
Selain itu, downtime produksi dapat diminimalkan secara signifikan.
4. Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Pelanggan tetap memperoleh layanan pada jam operasional yang lebih panjang sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan.
Perusahaan dapat melayani kebutuhan pelanggan di berbagai waktu, termasuk di luar jam kerja normal.
Hal ini memberikan pengalaman layanan yang lebih responsif dan profesional. Pada akhirnya, kualitas layanan yang konsisten dapat meningkatkan loyalitas pelanggan.
5. Memberikan Fleksibilitas bagi Sebagian Karyawan
Beberapa karyawan lebih nyaman bekerja pada jam tertentu sehingga sistem shift dapat membantu menyesuaikan kebutuhan individu selama tetap memperhatikan kebijakan perusahaan.
Fleksibilitas ini dapat meningkatkan kenyamanan kerja dan mengurangi tingkat stres karyawan.
Selain itu, karyawan dapat menyesuaikan waktu kerja dengan aktivitas pribadi mereka.
Namun, penyesuaian tetap harus diatur agar tidak mengganggu operasional perusahaan secara keseluruhan.
Baca Juga: Manfaat Performance Management System untuk Perusahaan
6. Gunakan Aplikasi Absensi Online untuk Mengelola Shift
Mengelola jadwal kerja secara manual berisiko menimbulkan kesalahan pencatatan, bentrok jadwal, hingga proses rekap absensi yang memakan waktu.
Dengan menggunakan aplikasi absensi online, perusahaan dapat mengatur jadwal shift, memantau kehadiran secara real-time, mengelola lembur, serta menghasilkan laporan kehadiran secara otomatis sehingga pekerjaan HR menjadi lebih efisien.
Kelola Sistem Kerja Shifting Lebih Efisien dengan Aplikasi Absensi Online Gaji.id
Aplikasi absensi online Gaji.id membantu perusahaan mengelola data kehadiran karyawan secara lebih akurat, terstruktur, dan terintegrasi dengan sistem HR lainnya.
Melalui solusi berbasis cloud, perusahaan dapat mengatur jadwal kerja, mencatat absensi, mengelola lembur, cuti, hingga menghasilkan laporan kehadiran yang dapat diakses dengan lebih praktis.
Selain mendukung pengelolaan absensi, Gaji.id juga terintegrasi dengan berbagai kebutuhan HR lainnya sehingga membantu perusahaan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Jika perusahaan Anda ingin mengelola sistem kerja shifting dengan lebih efektif dan terintegrasi, hubungi tim Gaji.id dan jadwalkan demo untuk melihat bagaimana solusi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional perusahaan.




